Kamis, 26 Januari 2017

Berdoalah di 11 Waktu Ini Niscaya Doamu Akan Terkabul

Berdoalah di 11 Waktu Ini Niscaya Doamu Akan Terkabul
Berdoalah di 11 Waktu Ini Niscaya Doamu Akan Terkabul

Doa merupakan salah satu senjata ampuh kaum muslimin dan ternyata ada waktu-waktu terkabulnya do’a sehingga banyak muslim yang menggunakan waktu ini untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. Setiap muslim yang beriman selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk kehidupan di dunia dan akhiratnya kelak sehingga mereka dapat hidup dengan baik dan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Kapan sajakah waktu-waktu mustajab tersebut?
Inilah Waktu-Waktu Terkabulnya Do’a Seorang Muslim

Rosulullah telah banyak menganjurkan kepada setiap muslim untuk selalu berdoa kepada Allah SWT di setiap waktu dan ternyata terdapat waktu-waktu mustajab sehingga doa-doa setiap muslim dapat terkabul jika dipanjatkan dalam waktu-waktu tersebut. Berikut adalah beberapa waktu mustajab terkabulnya doa:
1. Sepertiga Malam Terakhir
Dalam hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim telah dijelaskan bahwa setiap muslim yang memanjatkan doa kepada Allah SWT di waktu sepertiga malam terakhir dan memohon ampunan dosa, maka Allah SWT akan mengabulkan semua doanya dan memberikan ampunan kepadanya juga.
2. Waktu Bulan Ramadhan
Rosulullah menganjurkan kepada setiap muslim untuk berdoa ketika setelah melaksanakan sholat sunnah witir di bulan ramadhan dan lebih baik lagi jika mengucapkan doa “subhanal malikil quddus” sebanyak tiga kali maka Allah SWT akan mengabulkan semua doa-doa yang dipanjatkannya.
3. Waktu Sahur
Setiap muslim yang membiasakan diri untuk berdoa setelah sholat sunnah witir sebelum fajar yaitu di waktu sahur maka hal ini merupakan amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, jadi gunakan waktu sahur untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT.

4. Waktu Berbuka Puasa

Salah satu waktumustajab untuk berdoa adalah waktu berbuka puasa sehingga setiap muslim dianjurkan untuk memanjatkan doa saat berbuka puasa. Inilah waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan.
5. Waktu Arafah
Waktu arafah merupakan waktu dimana umat Islam yang menunaikan
ibadah haji sedang melakukan wukuf di arafah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Di waktu ini seluruh umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa , hal ini telah dijelaskan dalam hadits Nabi yang telah diriwayatkan Tirmidzi.



6. Waktu Jumat
Hari jumat merupakan rajanya hari dan seluruh umat muslim laki-laki yang telah baligh diwajibkan untuk menunaikan ibadah sholat jumat. Selain itu ternyata di hari jumat ini merupakan waktu mustajab sehingga setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa kepada Allah SWT.

7. Waktu antara adzan dan iqomah
Sebelum sholat jamaah dimulai didahului oleh adzan dan iqomah terlebih dahulu, ternyata waktu diantara dua adzan dan iqimah merupakan waktu mustajab untuk memanjatkan doa, hal ini telah tercantum dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.
8. Setelah Selesai Sholat Fardhu
Salah satu waktu-waktu mustajab untuk berdoa agar cepat terkabul adalah setelah sholat fardhu. Dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi telah dijelaskan bahwa waktu terkabulnya sebuah doa merupakan waktu setelah melaksanakan ibadah sholat fardhu.

9. Waktu Turun Hujan
Dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari telah dijelaskan bahwa Rosulullah selalu berdoa ketika hujan turun agar hujan itu membawa keberkahan bagi semua makhluk di dunia ini.

10. Waktu Setelah Mengkhatamkan al-Qur’an
Setiap muslim yang telah berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 30 juz dan dia memanjatkan doa kepada Allah SWT maka Allah akan mengabulkan doa-doanya dengan cepat.

11. Waktu Berjihad di Jalan Allah SWT
Ketika seorang muslim sedang berjihad dijalan Allah SWT dan dia memanjatkan doa maka InsyaAllah semua doanya terkabul, namun saat ini umat muslim tidak perlu berjihad dengan peperangan yang perlu diperangi adalah hawa nafsu diri sendiri.

Demikian informasi seputar waktu-waktu terkabulnya do’a bagi setiap muslim yang memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh dan waktu-waktu ini merupakan waktu mustajab.
Semoga bermanfaat.
Artikel Terkait : 

Minggu, 22 Januari 2017

Heboh !!...Penista Agama Ini Di Giring Ke Kantor Polisi

Heboh !!...Penista Agama Ini Di Giring Ke Kantor Polisi
Gambar Ilustrasi

Kasus pelecehan Alquran di Probolinggo, baru kali ini terjadi. Karenanya persoalan tersebut begitu membetot perhatian publik. Lalu bagaimana asal muasal terungkapnya kasus tersebut?
Adalah Lutfi Ahmad, warga Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang pertama kali melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. Pria keturunan Arab ini merasa tak nyaman setelah mendengar keterangan sejumlah rekannya terkait tindakan pelaku yakni Jazuli.
Menurutnya, kasus tersebut bermula disebuah acara takziah di rumah Jupri, di Dusun Pengadangan, Desa Kebonagung, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, tepatnya sekitar seminggu lalu. Saat itu, Jazuli, yang juga datang melayat tetangganya yang meninggal itu, terlibat perbincangan dengan kawan-kawan sekampungnya.
Lalu entah mengapa, ditengah obrolan itu, tiba-tiba Jazuli, menghardik seorang petakziah lain yang melafalkan kalimat Istigfar (Astagfirullah Halazdim). Ironisnya, Jazuli, bahkan melarang orang itu (belakangan diketahui bernama Rahmad, red) untuk tidak melafalkan kembali kalimat Istigfar, jika dirinya masih berada ditempat itu. “Jazuli, melarang Rahmad membaca Istigfar sambil mencak-mencak dan menutup telinganya,” kata Lutfi Ahmad.
Tak sampai disitu, seolah tanpa beban, dihadapan puluhan petakziah, Jazuli, juga mengatakan jika Allah SWT, itu tidak pernah ada. “Dia bilang Allah tidak ada. Mana Allah, kalau ada saya culek matanya, dan saya robek mulutnya. Mana, mana Allah,” lanjut Lutfi Ahmad, menirukan kata-kata Jazuli, saat itu.
Waktupun terus berlalu. Keesokan harinya, sejumlah pemuda atas saran Lutfi Ahmad, mendatangi rumah Jazuli, untuk memastikan sikap pria asli Dusun Pengadangan, Desa Kebonagung, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, itu terhadap Keesaan Allah. Tak disangka, saat dijumpai dirumahnya, Jazuli makin berani memperlihatkan sikap ketidakwajarannya tersebut. “Dihadapan kami dia menduduki Alquran, menyobek, bahkan berniat mengkentuti Alquran. Dia juga menantang keesaan Allah SWT,” sambung Lutfi Ahmad.
Untuk membuktikan tindakan Jazuli, Lutfi Ahmad, diam-diam juga merekam semua pembicaraan dan tindakan Jazuli, melalui kamera ponsel. “Saat merekam ponsel sengaja kami sembunyikan, karena kami tak ingin Jazuli tahu kalau kami rekam. Kepada kami Jazuli juga mengaku jika sudah memiliki 202 murid,” pungkas Lutfi Ahmad.
Selanjutnya, atas kesepakatan sejumlah pengurus FUIB (Forum Ummat Islam Bersatu) Probolinggo, kasus Jazuli, dibawa ke kepolisian.
Sobek, Duduki dan akan Kentuti Alquran, Jazuli Diamankan Polisi
Gara-gara dituding menodai agama, Jazuli (35), warga Dusun Pengadangan, Desa Kebonagung, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, diamankan polisi.
Sekitar pukul 24:15 dini hari, aparat dari jajaran Polres Probolinggo, dibantu warga desa sekitar, menjemput Jazuli di rumahnya. Bapak 5 anak ini, selanjutnya dibawa ke mapolres untuk diperiksa.
Sebelum dilaporkan menodai agama oleh beberapa tokoh FUIB (Forum Umat Islam Bersatu) Probolinggo, Jazuli, diketahui telah menyobek Alquran, mendudukinya, sekaligus (maaf, red) berniat hendak mengkentuti Alquran.
Lebih dari itu, pria yang belakangan diketahui menganut ilmu kejawen ini, juga disebut-sebut menantang ke Esaan Allah SWT. “Dia bilang Allah tidak ada. Mana Allah, kalau ada saya culek matanya, dan saya sobek mulutnya,” ujar Sukandar, warga sekitar rumah Jazuli, seraya menirukan ucapan Jazuli.
Ditambahkannya, pernyataan Jazuli, menantang Allah SWT sekaligus mengeluarkan kata-kata tak patut itu, juga diucapkan di muka umum. 
Mengaku Iseng
Jazuli, pria yang diketahui menyobek, menduduki, dan hendak mengkentuti Kitab Suci Al Quran, serta disebut-sebut menantang ke-Esa-an Allah SWT, akhirnya menjalani pemeriksaan di Mapolres Probolinggo hingga Jumat pagi.
Dihadapan polisi, pria yang mengalami kelumpuhan pada kaki kanannya ini nampak pasrah. Jelas terlihat diraut wajahnya rasa penyesalan.
Dijumpai beritajatim.com disela-sela pemeriksaan, Jazuli, mengakui semua perbuatannya. Namun ia berdalih, semua perbuatan yang ia lakukan tak lain hanyalah sekedar iseng. “Saya guyonan kok. Saya juga ndak menduga kalau guyonan saya berbuah penangkapan terhadap saya,” katanya.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal dan penjual ban sepeda motor ini juga mengaku beraliran kejawen. “Kalau saya dikatakan serius dalam peristiwa itu tentu tidak. Tapi memang saya menganut ilmu kejawen,” sambungnya singkat.
Untuk sementara, tak banyak yang bisa dikorek dari Jazuli. Polisi menyatakan, usai pemeriksaan nanti wartawan dipersilahkan mengajukan berbagai pertanyaan kepada yang bersangkutan.
“Nanti lagi wawancaranya. Sekarang kita periksa dulu,” ujar Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Sunardi Riyono, seraya mengahalau beritajatim.com dari ruang pemeriksaan I Polres Probolinggo.
Junaidi Ayah Jazuli Kaget Anaknya Melecehkan Al Quran
Kelakuan Jazuli, melecehkan Al Quran, jelas membawa dampak psikis terhadap seluruh keluarganya. Menurutnya, meski keluarga belum tahu persis kesalahan apa yang dilakukan Jazuli, hingga diamankan polisi, namun ia mengaku kaget dengan peristiwa penjemputan tersebut.
“Saya kaget. Keluarga juga masih belum tahu apa benar dia melecehkan Al Quran,” katanya.
Junaidi, mengatakan Jazuli, tinggal bersamanya kembali di Dusun Pengadangan, Desa Kebonagung, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, baru sekitar 1 tahunan. Sebelumnya, Jazuli, tinggal di rumah istrinya Ny Erna, disebuah desa di kawasan Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
“Dia pulang ke sini karena lumpuh. Kalau setahu saya dia lumpuh sudah sejak 3 tahun lalu,” ucap Junaidi.
Dikatakannya, selama ini perbuatan anaknya terbilang normal. Jazuli, yang anak ke 3 dari 6 bersaudara itu juga bergaul seperti biasa dengan tetangga sekitar. “Memang dia tak memiliki pekerjaan tetap. Karena itu sejak dia lumpuh dia membantu saya dibengkel ban sepeda motor,” sambungnya.
Menurut Junaidi, selama ini ia tak pernah mendapati Jazuli, sedang mempelajari ilmu atau sejenisnya untuk tujuan tertentu. Sehari-hari Jazuli, hanya membantunya dan mengurus semua anaknya.
“Soal kumpul-kumpul belajar ilmu tertentu ndak pernah itu. Punya murid juga tidak,” kata Junaidi.
Sementara itu, ketika disinggung soal dugaan pelecehan Al Quran, yang dituduhkan terhadap anaknya, Junaidi, sedikit kaget. “Hah masak iya. Kami semua keluarga di sini taat beribadah. Kami ini orang desa, dari dulu ya jelas memeluk Agama Islam. Saya juga ngajari Jazuli, sejak kecil memeluk agama Islam,” katanya.
Sekarang Junaidi, hanya berharap Jazuli, bertobat jika memang benar-benar melecehkan Al Quran dan menantang Keesaan Allah SWT.
Jazuli: “Kalau Allah Ada, Saya Colok Matanya !!”
Dianggap telah menodai agama, Jazuli yang merupakan warga Probolinggo diamankan polisi. Dia dilaporkan masyarakat karena nekat menyobel-nyobek Alquran dan mendudukinya.
Ketua PCNU Kraksaan, Probolinggo, KH As’ad Abu Hasan, meminta masyarakat Probolinggo, tidak main hakim sendiri terkait kasus dugaan pelecehan Al Quran.
Menurutnya, PCNU tetap akan bersikap keras terhadap tindakan pelaku. Namun demikian cara yang akan digunakan tetap menempuh jalur hukum. “Kami saat ini masih mengumpulkan bukti dan keterangan. Setelah lengkap baru kami akan selesaikan lewat jalur hukum,” 
Kiai As’ad berharap, masyarakat hendaknya tetap berpijak pada akal dan pikiran yang jernih. “Kami semua umat Islam merasa telah dilecehkan dengan sangat kasar. Tapi saya imbau masyarakat tetap santun menghukum pelaku. Dan untuk aparat yang berwajib, jangan coba-coba menyepelekan masalah ini,” tegasnya.
MWC NU juga berjanji akan mengamankan seluruh umat Islam di Kabupaten Probolinggo, agar tidak terjebak konflik horisontal pasca terjadinya pelecehan Al Quran. “Kami akan amankan seluruh ummat Islam agar tidak bertindak anarkis. Sekali lagi kami tempuh jalur hukum,” pungkasnya.
Saat berita ini diturunkan, sejumlah anggota MWC NU Kabupaten Probolinggo, sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan saksi. Tim yang dipimpin Rois Syuriah, KH Siyabuddin, ini melakukan investigasi di mapolres dan sekitar rumah pelaku.
Dilain pihak, Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Sunardi Riyono, menyatakan masih medalami kasus tersebut. “Jazuli, masih kita amankan. Kita masih mendalami kasusnya,” katanya.

Ketua PCNU Kraksaan, Probolinggo, KH As’ad Abu Hasan, meminta masyarakat Probolinggo, tidak main hakim sendiri terkait kasus dugaan pelecehan Al Quran.

Menurutnya, PCNU tetap akan bersikap keras terhadap tindakan pelaku. Namun demikian cara yang akan digunakan tetap menempuh jalur hukum. “Kami saat ini masih mengumpulkan bukti dan keterangan. Setelah lengkap baru kami akan selesaikan lewat jalur hukum,”
Kiai As’ad berharap, masyarakat hendaknya tetap berpijak pada akal dan pikiran yang jernih. “Kami semua umat Islam merasa telah dilecehkan dengan sangat kasar. Tapi saya imbau masyarakat tetap santun menghukum pelaku. Dan untuk aparat yang berwajib, jangan coba-coba menyepelekan masalah ini,” tegasnya.
MWC NU juga berjanji akan mengamankan seluruh umat Islam di Kabupaten Probolinggo, agar tidak terjebak konflik horisontal pasca terjadinya pelecehan Al Quran. “Kami akan amankan seluruh ummat Islam agar tidak bertindak anarkis. Sekali lagi kami tempuh jalur hukum,” pungkasnya.
Saat berita ini diturunkan, sejumlah anggota MWC NU Kabupaten Probolinggo, sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan saksi. Tim yang dipimpin Rois Syuriah, KH Siyabuddin, ini melakukan investigasi di mapolres dan sekitar rumah pelaku.
Dilain pihak, Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Sunardi Riyono, menyatakan masih medalami kasus tersebut. “Jazuli, masih kita amankan. Kita masih mendalami kasusnya,” katanya.
Untuk sementara, tak banyak yang bisa dikorek dari Jazuli. Polisi menyatakan, usai pemeriksaan nanti wartawan dipersilahkan mengajukan berbagai pertanyaan kepada yang bersangkutan.

“Nanti lagi wawancaranya. Sekarang kita periksa dulu,” ujar Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Sunardi Riyono, seraya mengahalau beritajatim.com dari ruang pemeriksaan I Polres Probolinggo.

TRAGIS !!...Setelah Menista Nabi dan Al-Qur`an, Allah Menimpakan Padanya Balasan Mengenaskan. Saat Meninggal, Jasadnya Dimuntahkan Bumi

TRAGIS !!...Setelah Menista Nabi dan Al-Qur`an, Allah Menimpakan Padanya Balasan Mengenaskan. Saat Meninggal, Jasadnya Dimuntahkan Bumi
Gambar Ilustrasi

PADA zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ada dua orang penista yang seringkali disalahpahami karena kemiripan keduanya. Orang yang pertama pada akhirnya bertaubat dan masuk Islam dengan baik. Sedangkan yang satunya, murtad dan mati secara mengenaskan.
Pertama, adalah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Kedua, tidak diketahui namanya, tapi berasal dari Bani Najjar yang beralih ke agama Nashrani.
Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh
Ibnu Abi Sarh (saudara sesusu Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu) awalnya adalah seorang musyrik. Setelah hidayah Allah subhanahu wata’ala masuk ke dalam lubuk hatinya, dia pun memeluk Islam (sebelum Perjanjian Hudaibiyah). Tugas mentereng pun diembannya. Ia dijadikan sebagai salah seorang penulis wahyu.
Ketika menulis wahyu, ada yang disalahpahami oleh Ibnu Abi Sarh. Saat Rasul mendiktekan kata  as-sami’ al-‘alim, Abdullah menulis al-‘alim al-hakim. Nabi pun mengomentari, memang Allah memiliki sifat demikian. Namun, ia salah paham. Dikiranya nabi membenarkan dirinya merubah al-Qur`an. Padahal nabi ingin menunjukkan bahwa itu memang termasuk dari al-asma al-husna. Pada suatu malam ia pergi diam-diam ke Makkah kemudian murtad dan mengatakan kepada mereka bahwa dirinya telah mendistorsi al-Qur`an.
Menurut Ath-Thabari Surah Al-An’am, ayat 93 turun berkaitan dengan Ibnu Abi Sarah dan Musailamah bin al-Habib (Jāmi’ul Bayān fī Ta`wīli al-Qur`ān, 11/536).
Syaikul Islam, Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya yang berjudul al-Shārim al-Maslūl ‘Ala Syātimi al-Rasūl (Hal: 115) menyebutkan secara jelas kesalahannya.
Dari beberapa riwayat yang dihimpun, bisa diketahui bahwa Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh berdusta atas nabi. Dirinya beranggapan telah menyempurnakan wahyu nabi sehingga ia bisa menulis apa saja yang dikehendaki, ini karena dia merasa disepakati dan dibiarkan nabi. Sampai ia beranggapan akan turun wahyu kepada dirinya.
Perbuatannya ini jelas mencela Rasulullah dan kitabnya yang bisa membuat keraguan kepada kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pada masa Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah 8 H) sebenarnya Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam meminta sahabat untuk mencari dan membunuhnya. Namun tidak jadi karena mendapat ijarah (suaka) dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ditambah lagi ketulusan hati untuk bertaubat. Akhirnya taubatnya diterima dan melaksanakan keislaman secara baik. Pada zaman kekhilafaan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu ia menjadi Komandan Angkatan laut, serta berperan serta dalam jihad di benua Afrika dan Laut Mediterania.
Orang Nashrani yang Masuk Islam Kemudian Murtad
Orang kedua asalnya beragama Nashrani. Berasal dari kalangan Bani Najjar, masih sesuku dan kerabat Annas bin Malik. Pasca keislamannya, ia mendapat amanah untuk menulis wahyu, sebagaimana Ibnu Abi Sarh. Di mata sahabat, orang ini begitu dikagumi karena telah menghafalkan Surah Al-Baqarah dan Ali Imran. Waktu itu, siapa saja yang bisa menghafal keduanya sangat dihormati dan dikagumi.
Parahnya, dia murtad, kembali ke agama Nashrani dan menceritakan bahwa,  “Muhammad tidak mengerti apa-apa, melainkan apa yang aku tulis.”
Dalam riwayat Abu Daud Ath-Thayalisi dijelaskan, jika Rasul mendiktekan kata sami’an bashiran, oleh dia ditulis sami’an ‘aliman. Jika didektekan kata sami’an ‘aliman, maka ia tulis sami’an bashiran. Dia merasa telah membodohi Muhammad dengan melakukan perbuatan tersebut.
Setelah murtad, menista nabi, al-Qur`an dan tidak mau bertaubat, Allah menimpakan kepadanya balasan yang mengenaskan. Seketika dia dimatikan Allah subhanahu wata’ala.
Apa yang dialaminya sungguh luar biasa tragis. Biasanya orang murtad tidak sampai dihukum dengan hukuman seperti ini. Sebab, kesalahannya bukan hanya murtad, tapi juga menista nabi dan Al-Qur`an. Sebagaimana yang dicatat oleh Syekh Ibnu Taimiyyah dalam al-Shārim al-Maslūl ‘Ala Syātimi al-Rasūl (116, 117).
Di samping itu Syekh Ibnu Taimiyyah dalam kitab al-Jawābu al-Shahīh Liman Baddala Dīna al-Masīh (VI/296) memberikan penjelasan menarik dari sejarah mengenai penistaan terhadap nabi.
Dari pengalaman tentara umat Islam di Syam, jika mereka mengalami kesulitan mengepung benteng Ahlul Kitab, maka ditunggu sampai mereka menghina nabi. Saat terdengar hinaan kepada nabi maka benteng musuh bisa dijebol. Sebagai balasan dari Allah, sesuai dengan Surah Al-Kautsar, ayat tiga.
Pada kasus lain, ketika Kisra (Raja Persia) menyobek-nyobek surat nabi, maka Allah hancurkan kekuasaannya. Sedangkan ketika Heraclius dan Muqauqis menghormati surat nabi, maka kekuasaan mereka masih tetap. Ini menunjukkan bahaya penistaan kepada nabi, al-Qur`an dan Islam.
Pelajaran berharga dari kedua kisah ini ialah: Pertama, hati-hatilah terhadap penistaan, baik itu kepada nabi, kitab suci dan Islam. Kedua, akhir yang tragis akan dialami oleh penista. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang Nashrani.
Ketiga, bagi setiap penista, segera bertaubat sebelum terlambat. Dengan bertaubat, kembali ke Islam, maka dosa-dosa di masa lalu akan dihapuskan, sebagaimana hadits berikut:

إِنَّ الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ

“Sesungguhnya Islam menghapus (dosa-dosa) yang telah terjadi di masa lalu.” (HR. Ahmad).*

Penulis alumni Al Azhar, peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014


Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Inilah Kisah Kematian Tragis Ka’ab bin Asyraf. Kematian yang Pantas Bagi Penghina Nabi dan Keluarganya.

Inilah Kisah Kematian Tragis Ka’ab bin Asyraf. Kematian yang Pantas Bagi Penghina Nabi dan Keluarganya.
Inilah Kisah Kematian Tragis Ka’ab bin Asyraf. Kematian yang Pantas Bagi Penghina Nabi dan Keluarganya.

MERUNUT sejarah, umat Islam tak sekali berhadapan dengan penista agama. Ia hadir sejak wahyu pertama turun dan kian menjadi kala didakwahkan secara terang-terangan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam di Makkah dan Madinah.
Caranya pun beragam. Ada yang lewat hasutan, menggubah syair menyerang keluarga Nabi, hingga menabur kotoran diam-diam di depan rumah Nabi atau jalan yang biasa dilalui.
Pastinya, ada satu hal yang menyamakan mereka para penista agama. Semuanya berakhir tragis kecuali jika ia bertaubat menjemput hidayah Islam.
Pun demikian dengan Ka’ab bin Asyraf. Seorang penista agama dari kalangan Yahudi Madinah.
Dengan kepiawaian menggubah syair, Ka’ab tak henti merongrong umat Islam dengan menjelekkan keluarga Nabi.
Ia juga menghasut Quraisy Makkah untuk menuntut balas kekalahan mereka di Perang Badar silam.
Singkat kata, Rasulullah merasa terganggu dan menawarkan kepada sahabat, siapa gerangan yang bisa menuntaskan masalah tersebut.
Sontak, sahabat Muhammad bin Maslamah, segera berdiri menyanggupi undangan tadi. Meski belakangan, ia mengaku tak tahu harus berbuat apa dalam menolong Nabi.
Iya, saking tingginya ghirah beragama, sahabat itu belum sempat berfikir bagaimana cara membunuh Ka’ab.
Seorang pemuka Yahudi yang hidup dalam benteng kokoh dengan pengawalan ketat tentu berbeda dengan masyarakat awam biasa.
Diceritakan, berhari-hari Muhammad bin Maslamah tak bisa makan dan minum. Rupanya ia  terbebani dengan tugas berat itu.
Hingga Nabi memberi keringanan kepadanya.“Perbuatlah apa yang kamu pandang baik untuk itu.”
Seketika Muhammad beroleh inspirasi dari arahan Nabi tersebut. Ia bangkit dan menyiapkan pasukan khusus untuk sebuah operasi rahasia.
Abbad bin Bisyr, al-Harts bin Aus, dan Silkan bin Salamah yang dikenal dengan sebutan Abu Nailah turut bergabung dalam misi intelijen tersebut.
Nama yang disebut terakhir terhitung masih saudara sesusuan Ka’ab bin Asyraf, tokoh yang diincar oleh mereka.
Berbekal simpatik sebelumnya, terlebih dengan hadirnya Abu Nailah, para sahabat memutuskan menemui Ka’ab di istana sekaligus bentengnya itu.
Sampai malam naas itu, Ka’ab ternyata belum sadar dengan bahaya yang mengancamnya.
Ia bersegera turun ke halaman menemui orang-orang yang memanggilnya itu.
“Sungguh aku mendengar keburukan dari ucapan Silkan bin Salamah.” ujar istrinya mengingatkan.
“Aku mencium bau darah yang menetes dari ucapan mereka,” lanjut istrinya geram dengan teriakan para sahabat Nabi.
Mendapat warning demikian. Ka’ab justru bertambah pongah. “Pantang bagi seorang dermawan menolak suatu ajakan apapun. Meski diajak kepada tikaman, sang dermawan itu pasti memenuhinya,” seru Ka’ab yang tak lagi peduli nasihat istrinya.
Anehnya, tiba di pekarangan, tak ada apa-apa seperti dikhawatirkan istri Ka’ab. Tapi sejatinya itulah kematangan strategi intelijen Muhammad bin Maslamah, sang panglima operasi.
Bersama yang lain, Muhammad malah mengajak Ka’ab mengitari kebun di kediaman Ka’ab.
“Sungguh parfummu wangi sekali malam ini. Bolehkah saya mencium kepalamu?“ puji Muhammad sambil meraih kening Ka’ab untuk diciumi.
Ajaib. Ka’ab yang sejak tadi pede dengan mudah menyodorkan kepalanya. Para sahabat pun berlomba ikut-ikutan meraih kening Ka’ab. Menikmati parfum mewah milik seorang bangsawan kaya dan pembesar masyarakat saat itu.
Terlena dengan sanjungan, akhirnya Ka’ab benar-benar lupa daratan.
Tiba-tiba Muhammad bin Maslamah mencengkeram kepala Ka’ab sambil berseru lantang. “Wahai sahabatku, bunuhlah musuh Allah ini!”
Seketika, sejumlah pedang tajam langsung berkelebat menghunjam ke arah kepala dan tubuh Ka’ab.
Hingga akhirnya sebilah tombak kecil mengantar kematian sang penista agama tersebut. Tombak itu menancap tembus ke kemaluan Ka’ab.
Inilah kisah kematian tragis Ka’ab bin Asyraf. Kematian yang pantas bagi penghina Nabi dan keluarganya.
Hingga sekarang reruntuhan bangunan istana atau benteng Ka’ab masih didapati terserak di pinggir Kota Madinah.*


Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Cholis Akbar

[Kisah Nyata] - Inilah Kematian Tragis si Penista Agama Yang Anti Arab. Mengerikan!!...Bumipun Tidak Mau Menerima Jasadnya

[Kisah Nyata] - Inilah Kematian Tragis si Penista Agama Yang Anti Arab. Mengerikan!!...Bumipun Tidak Mau Menerima Jasadnya
[Kisah Nyata] - Inilah Kematian Tragis si Penista Agama Yang Anti Arab. Mengerikan!!...Bumipun Tidak Mau Menerima Jasadnya 

Ini kisah tentang musthafa kamal. Penguasa turki yg sangat anti dgn yg 'kearab-araban'. (Padahal namanya sendiri berbahasa arab). Pakaian 'arab' dilarang, adzan dgn bahasa arab dilarang, tulisan nama-nama masjid dgn bahasa arab dilarang. Bahkan saking bencinya dgn tulisan arab, qur'an pun tidak boleh diedarkan jika masih memakai tulisan arab. Matanya memerah, marah jika melihat TULISAN ARAB. Puluhan ulama ia buru dan gantung krn menentang idenya yg ingin menghapus pengaruh arab dalam masyarakat.


Tapi teman2 tau bagaimana akhir si anti arab ini? Begini kisahnya...


Menjelang kematiannya, Allah datangkan beberapa penyakit hingga ia merasakan siksaan yang demikian dahsyat. Diantaranya penyakit kulit sampai ke kaki dimana ia merasa gatal-gatal seluruh tubuh. Gatal tidak kunjung hilang meski kulit terkelupas akibat digaruk menggunakan kuku. Ditambah dgn penyakit jantung, tekanan darah tinggi, serta marasa panas sepanjang waktu. #Tersiksa


Pembantu-pembantunya juga diarahkan untuk meletakkan potongan-potongan es di dalam selimut untuk mendinginkan tubuhnya. Namun tetap sia-sia. Karena tidak tahan dengan panas yang ditanggung, ia menjerit sehingga seluruh istana mendengar jeritan itu. Karena tidak tahan mendengar jeritan, mereka yang bertanggung jawab mengirimnya ke tengah lautan dan ditempatkan dalam perahu dengan harapan ia akan merasa sejuk. Panasnya tak juga hilang!


Pada 26 september 1938, ia pingsan selama 48 jam karena terlalu panas dan sadar setelah itu, tetapi hilang ingatan. Pada 9 November 1938, Kemal pingsan lagi selama 36 jam dan akhirnya meninggal dunia. Sewaktu dia meninggal, tidak seorang pun yang memandikan, mengkafani dan menyolatkan mayatnya. #busuk


Mayatnya diawetkan selama 9 hari 9 malam, sehingga adik perempuan beliau datang meminta ulama-ulama Turki memandikan, mengkafani dan menyolatkannya. Tidak hanya itu, Allah tunjukkan lagi balasan azab ketika mayatnya di bawa ke kuburan. Saat mayatnya hendak ditanam, tanah tidak menerimanya. Karena putus asa, mayatnya diawetkan sekali lagi dan dimasukkan ke dalam museum yang diberi nama EtnaGrafi selama 15 tahun sampai tahun 1953.

Setelah 15 tahun mayatnya hendak ditanam kembali, tapi bumi tetap tdk menerimanya. Akhirnya mayatnya dibawa ke satu bukit dan ditanam di celah-celah batu marmer.

Para ulama saat itu mengatakan bahwa bukan hanya bumi Turki, seluruh bumi Allah ini tidak akan menerima jasad mustafa kamal ataturk.
Begitulah kematian si anti arab. 

Adakah yg mau mengikutinya?

Semoga bisa menjadi pelajaran untuk semua.

Sabtu, 21 Januari 2017

Subhanallah, Jenazah Gadis Berparas Cantik ini Wanginya Luar Biasa. Ternyata Inilah Yang Terjadi

Subhanallah, Jenazah Gadis Berparas Cantik ini Wanginya Luar Biasa. Ternyata Inilah Yang Terjadi
Subhanallah, Jenazah Gadis Berparas Cantik ini Wanginya Luar Biasa. Ternyata Inilah Yang Terjadi

Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di pelosok Saudi Arabia. Seorang gadis berparas cantik nan menawan dahulunya tak pernah sedikit pun melaksanakan shalat dan menyentuh Al Quran.
Namun, setelah melihat temannya melakukan perbuatan haram, ia pun memutuskan untuk bertaubat dan berusaha menghidupkan  Al Quran dengan menjadi seorang Hafidzah atau penghafal Al Quran.
Sebagaimana dilansir Kabarmakkah.com, Gadis tersebut bernama Hasna, lahir dari sepasang suami istri yang kaya raya.
Meski memiliki harta yang berkecukupan, namun tak pernah ia rasakan kasih sayang dan pendidikan agama dari keluarganya.
Ia lahir dari keluarga yang terlalu sibuk mengurus pekerjaannya hingga melalaikan kehidupan keluarga.
Ibunya jarang ada di rumah karena sering bepergian keluar kota baik untuk bisnis maupun aktivitas lainnya.
Dengan kurangnya dukungan kasih sayang dan bimbingan agama dari kedua orang tuanya,
Hasna mencari kesibukan dan perhatian dari teman-temannya sehingga bisa dibilang Hasna menjelma menjadi seorang anak perempuan yang tidak bisa diatur.
Pada saat libur sekolah, Hasnak bersama dengan teman-temannya sering menyewa sebuah villa untuk menikmati masa liburan. 
Tak hanya teman wanita saja yang ikut dalam liburan tersebut, namun teman-teman yang pria pun bercampur baur meski saat mereka tidur dibedakan kamar antara pria dan wanita.
Campur baur pertemanan antara pria dan wanita masih bersifat wajar dimana hanya berupa obrolan dan candaan semata.
Namun pada suatu saat ia pergi ke rumah temannya yang wanita dengan beberapa teman pria juga.
Rumah tersebut terbilang sepi karena orang tua temannya juga sama-sama sibuk. Bisa dibilang mereka bisa melakukan apapun dalam rumah tersebut.
Sang teman yang empunya rumah berkata kepada Hasna “Aku ke kamar dulu yah!” Yang cukup aneh adalah dia menggandeng temannya yang pria untuk ikut masuk kedalamnya.
Bahkan temannya tersebut berucap kepadanya “Jika kamu mau, kamu bisa pakai kamar yang satunya lagi bersama cowok yang kamu suka.”
Namun Hasna tidak menuruti apa yang dikatakan temannya tersebut.
Hingga beberapa saat berselang, teman wanitanya yang masuk ke kamar sedikit berteriak memanggil Hasna “Hasna sini deh”.
Dengan cepat Hasna menghampiri kamar dan saat dibuka pintu, ia mendapati temannya yang wanita tengah berbaring di atas ranjang sementara sang pria berada di atasnya dengan tanpa sehelai pakaian sedikit pun.
“Beraninya kamu berbuat itu!”
Seketika itu juga Hasna langsung pergi keluar rumah tersebut sambil menangis karena menyaksikan perbuatan yang terkutuk itu. Kini ia merasa bahwa jalan hidupnya telah sesat dan tanpa tujuan yang jelas.
Hasna yang dahulu suka keluar untuk bergaul berubah menjadi penyendiri dan suka merenung.
Ia juga kini tidak suka mendengarkan musik serta tidak menyukai pakaian yang terbuka seperti kelakuannya dahulu.
Kemewahan yang ada dalam rumah serta pakaiannya kini tidak lagi dikaguminya.
Di saat adzan berkumandang, hati kecilnya merasa terpanggil untuk melakukan shalat. Untunglah ada sepasang mukena dan juga sajadah bekas peninggalan nenek dari ayahnya dahulu yang pernah menginap di rumah tersebut.
Meski ayahnya seorang muslim, Hasna tak pernah melihat imam keluarga tersebut melaksanakan shalat.
Saat tubuhnya mulai merunduk dan tersungkur sujud, Hasna merasakan sebuah penyesalan yang mendalam dengan disertai kucuran airmata yang tiada henti.
Hampir satu jam ia menangis tersedu hingga membasahi mukena dan sajadah yang digunakannya.
Dalam kekhusyukan doa, ia merasakan sebuah ketenangan batin yang tak pernah dialaminya sejak dahulu.
Setelah melakukan shalat, ia kemudian teringat akan pamannya yang merupakan seorang yang taat beragama.
Ia pun memutuskan pergi ke rumah pamannya tersebut untuk belajar ilmu agama. Sang paman pun dengan penuh kasih sayang mengajarkan keponakannya untuk bisa melakukan wudhu dan shalat yang benar.
Hari demi hari, Hasna mulai bisa menguasai ilmu yang telah diberikan sang paman.
Melihat Al Quran merupakan sebuah pedoman hidup umat muslim yang berharga, Hasna memutuskan untuk menghafal Quran dan bertanya kepada pamannya.
“Berapa lama sih paman untuk bisa menghafal Al Quran?” Tanya Hasna
“Insyaallah sekitar 5 tahun sudah bisa hafal” Seru sang paman
Dalam hati, Hasna berkata “Ya Allah mungkin saja sebelum lima tahun tersebut saya sudah meninggal.”
Namun tekad Hasna tetap diteruskan meski belum tahu apakah lima tahun tersebut bisa dicapainya.
Saat hari libur, Hasna tetap menemui pamannya untuk belajar menghafal Al Quran.
Sang ayah yang memang libur merasa heran kemana anaknya pergi pagi-pagi dan betapa terkejutnya ia melihat Hasna berada di rumah adiknya yang alim tengah berusaha menghafal Al Quran.
Sang ayah yang memang jauh dari agama segera menyuruh Hasna untuk pulang.
Namun Hasna justru tidak ingin pulang ke rumah yang jauh dari aura agama. Alhasil Hasna memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya.
Impian untuk bisa menghafal 30 juz Al Quran akhirnya bisa dilakukan oleh Hasna dengan cukup mengejutkan.
Hasna tidak perlu butuh waktu 5 tahun untuk bisa menghafalnya karena dengan hanya waktu 3 bulan saja Hasna menjelma menjadi seorang hafidzah berkat semangatnya untuk berada di jalan Allah.
Dengan keberhasilan yang dicapainya, sang kakek dan keluarga yang lain ingin mengadakan syukuran dengan mengundang beberapa kerabat dekat. Namun Hasna justru tidak terlihat dari kumpulan keluarga tersebut.
Salah seorang kerabat menuturkan bahwa ia melihat Hasna tengah shalat di kamarnya dan belum keluar.
Dengan perasaan tidak karuan cukup lama, kerabat dan keluarganya kemudian berinisiatif untuk masuk ke kamar Hasna.
Setelah sempat mengetuk pintu beberapa kali, sang kakek kemudian membuka pintu tersebut dan alangkah terkejutnya pihak keluarga karena mendapati Hasna yang terbaring tak bernyawa sembari memegang Al Quran.
Ayahnya yang ikut hadir dalam syukuran tersebut langsung histeris disertai tangisan yang mendalam.
Meski merupakan sebuah peristiwa yang cukup mengagetkan, namun pihak keluarga beserta kerabat berusaha menerima kenyataan tersebut.
Tubuh Hasna kemudian dimandikan dan saat hendak dikafani dengan kain kafan yang baru dibeli, mendadak kain tersebut hilang entah kemana.
Karena tidak mendapatkan kain lagi dan yang ada hanya sebuah kain hijau di tiang sudut rumah, pihak keluarga pun menutupi jenazah Hasna dengan kain tersebut.
Namun yang cukup membuat kerabat dan keluarga terheran-heran adalah bau wangi yang terus tercium dari kain pembungkus jenazah. Subhaanallaah.
Semoga kita semua senantiasa mendapat keridhaan Allah hingga akhir hayat dan dianugerahi akhir yang khusnul khotimah, Aamiin.